Menembus Hujan, Pendakian Gunung Ciremai via Jalur Palutungan

Menembus Hujan, Pendakian Gunung Ciremai via Jalur Palutungan

Meeting Point di Terminal Kampung Rambutan. Saat menjelang hari H kami pun sudah menyusun itinerary selama perjalanan dan personil yang fix berangkat akhirnya berjumlah 10 orang dengan komposisi 7 cowok dan 3 cewek. Pada jam 19.00 wib semua wajib berkumpul di titik pertemuan yang sudah ditentukan yaitu di Terminal Kampung Rambutan. Sambil menunggu personil lengkap saya dan teman saya Boneng kebetulan belum makan jadi kita makan nasgor dulu di pinggir jalan sambil ngobrol dan lihat di sekeliling ternyata banyak juga yang nanjak di minggu ini.

Biasanya kalau banyak pendaki yang memutuskan berangkat dari terminal kampung rambutan kebanyakan tujuan pendakian mereka adalah gunung – gunung di wilayah Jawa Barat seperti Ciremai, Cikuray, Gede Pangrango dan Papandayan.

Yaps, rada telat sih jam 20.00 wib akhirnya seluruh tim sudah terkumpul semua dan mengkonfirmasi barang bawaannya, walupun ada yang kurang nanti bisa dicari sambil jalan (kebiasaan hehe). Langsung saja kami mencari Bus tujuan Kuningan Jawa Barat, niat kami mencari Bus AC agar bisa istirahat dengan nyaman di perjalanan namun sia – sia karena Bus AC tujuan Kuningan tidak beroperasi sampai malam hari  dan akhirnya kami putuskan naik Bus Luragung walaupun tidak AC setidaknya kami bisa sampai tepat waktu di Cirendang.

Mengisi Perut di Cirendang Sambil Mencari Angkot ke Basecamp Palutungan. Badan terasa pegal semua setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam jam sudah menunjukkan pukul 04.00 wib dan saya coba pindah kursi ke depan di sebelah Pak Sopir dan ngobrol ngalor ngidul mengenai Gunung Ciremai yang akan kami daki hari ini. Beliau kasih tahu kalau mau naik Gunung Ciremai nanti turun di Cirendang saja lalu pindah ke angkutan umum sejenis elf untuk mengantar ke Base Camp Palutungan.

Mendengar hal itu dari Pak Sopir lalu saya membangunkan satu persatu teman – teman untuk persiapan turun karena Cirendang sudah tidak jauh lagi. Gubrak Bruk, satu persatu tas carrier kami diturunkan oleh Pak Kenek dan dia bilang “kok berat berat ya mas” hehe maklum beberapa tas sudah kami isi air dalam kemasan botol karena saya lebih baik merasakan kelaparan dibanding harus kehausan dijalan.

pendakian gunung ciremai via palutungan

Pada sarapan di cirendang sambil nunggu elf

Simaksi dan Cek Ulang Perbekalan. Setelah mengisi perut di Cirendang kami langsung naik elf dan meneruskan perjalanan sekitar 30 menit hingga akhirnya sampai ke Basecamp Palutungan. Sebagian dari kami ada yang repacking barang bawaanya, ada yang nyemil, ada yang ngisi botol air, ada juga lagi ada yang mandi dulu aaaahhhh yasudahlah.

Saya dan Acong salah seorang teman saya jalan ke tempat simaksi dan melakukan registrasi untuk 10 orang yang masing – masing orang dikenai biaya Rp 50.000.

Lalu saya bertanya “kok mahal ya pak”

Admin menjawab “itu sudah termasuk makan siang nanti ketika kalian kembali turun lagi ke Basecamp”

Oohh begindang pak hehehe…okedeh enggak apa – apa lumayan lah dan saya dikasih peta perjalanan dan diwanti – wanti kalau tidak boleh bangun tenda di Goa Walet, tanpa menanyakan alasannya saya pun meng-iya-kan. Sebelum saya meninggalkan tempat simaksi saya minta Acong untuk coba miss call no telp yang tertera di peta apakah masih aktif atau tidak.

Ngga (Acong memanggil nama saya) nomere wes enggak aktif.

Waduh! lalu saya berlari balik lagi ke tempat simaksi dan saya minta no telp lagi kepada adminnya langsung sambil bawa hp untuk memastikan no telp yang saya terima aktif dan bisa dipertanggung jawabkan.

Berdasarkan pengalaman saya ketika mendaki Gunung Slamet dan teman saya mengalami cedera parah tidak bisa jalan waktu itu, saat itu ada sinyal namun saya dikasih no telp pengurus yang tertera di peta sudah tidak aktif. Kami ketakutan setengah mati melihat teman kami kesakitan dan kami butuh pertolongan Tim SAR atau Ranger setempat. Baca lanjutannya di postingan Gunung Slamet ya gaes 🙂

Setelah saya coba nomor yang diberikan ternyata benar aktif lalu saya kembali ke rombongan saya untuk melakukan sesi foto bersama sebelum naik dan hal ini wajib dilakukan oleh setiap pendaki sebelum mulai pendakian.

pendakian gunung ciremai via palutungan

start pendakian : Dok Pribadi

Rest Sebentar Bro, Saya Masuk Angin Nih. Entah kenapa saya merasakan enggak enak badan dan sedikit – sedikit minta rest (istirahat) bisa dibilang barang bawaan saya lebih berat dibanding yang lain karena air dan bekal konsumsi ada di tas saya semua.

Wek Byorrr…keluar semua isi perut saya dan tepar sejenak, saya masuk angin nih hahaha

Azis teman saya langsung gerak cepat ngeluarin kompor dan nasting untuk bikinin kopi buat saya. Sambil nada bercanda dia bilang “Awakmu kudune ngopi dhisik ngga ben strong” (kamu seharusnya minum kopi dulu ngga biar strong). Memecah kekhawatiran teman – teman yang lain.

pendakian gunung ciremai via palutungan

Abang lemes neng butuh ngopi : Dok Pribadi

Sambil minum kopi buatan teman, makan sepotong roti, dipijet dan diurut diatas gunung merupakan servis terbaik mereka sebagai teman hahaha kapan lagi bisa kayak gini. 15 menit istirahat lalu kami lanjutkan perjalanan tetapi saya minta tukaran tas dengan yang lebih ringan sampai kondisi saya benar – benar fit #Modus.

Teringat Cerita Macan dan Diguyur Hujan. Sesampainya di Pos Cigowong hujan mulai membasahi bumi dan kami pun segera mencari tempat berteduh, kebetulan ada warung kopi di pos ini heheh…bisa sambil nyemil gorengan dan ngopi (lagi). Satu persatu pesan kopi, teh dan gorangan sambil menunggu bergantian shalat di sebelah warung.

Cindy yang merupakan teman sekantor yang ikut dalam pendakian kali ini sesekali memijat kakinya dan saya tanya apakah sakit dan bisa lanjut? sambil ngasih hot cream buat dioleskan di kakinya. Dia bilang bisa, lalu saya minta sebagian isi tasnya di bagi ke teman yang lain aja yang masih kuat.

pendakian gunung ciremai via palutungan

Banyaknya kram karena kelelahan si Agus sedang mijetin istrinya: Dok Pribadi

Sambil ngobrol dengan tukang kopinya saya pernah baca – baca di internet kalau di Ciremai masih ada macan berkeliaran turun gunung dan di bilang benar adanya setiap malam ada di sekitar pos 1 dan 2 terdengan auman macan di malam dan pagi hari “merinding cuyyy” tapi katanya kami akan tetap aman jika kami mendaki tetap pada trek atau jalur yang sudah umum dilalui dan jangan coba – coba mengganggu keberadaan si macan. Syukurlah semoga kita masih tetap dalam lindungaNya. Amien.

Bikin Tenda dan Masak. Saking banyaknya nge-rest dan berhenti karena hujan yang semakin lebat mengakibatkan target pos pendakian tidak tercapai yang awalnya kita berencana bangun tenda di post 5 akhirnya hanya sampai pos 3 saja yaitu Pangguyangan Badak dikarenakan sudah hampir petang juga kami segera membangun tenda dan yang cewek mulai memasak.

pendakian gunung ciremai via palutungan

Persiapan makan : Dok Pribadi

Setelah sesi masak dan shalat selesai selanjutnya adalah sesi tidur dimana karena kita hanya bawa tenda cuma 2 alhasil tenda cowok umpel – umpelan dan kelebihan kapasitas. Saya pikir ah masa bodoh yang penting hangat dan bisa tidur nyenyak biar besok pagi bisa bangun dalam keadaan fit.

Suasana hutan pinus sempat saya abadikan di instagram.


Summit at 02.00 am. Alarm hp berdering sangat keras tapi belum ada satupun yang beranjak keluar dari tenda dan hanya teriak – teriak suruh bangun duluan hehehe #DasarKelakuan.

Akhirnya kami semua pada keluar tenda melakukan peregangan, persiapan dan Azis langsung memasak bakso dengan cepat. Makanan hangat yang masuk perut seketika membuat tubuh ikut menjadi hangat sehingga menambah tenaga karena kami juga harus melewati 6 pos lagi untuk naik sampai puncak.

pendakian gunung ciremai via palutungan

Summit yang kesiangan : Dok Pribadi

Cindy Kedinginan, Amel Cedera dan Rani Kelelahan. Para pendaki wanita ini lagi kurang fit banget kondisinya hingga mengalami hal seperti itu. Padahal ketika summit mereka paling semangat namun entah kenapa setelah perubahan cuaca mendadak di puncak kondisinya berubah drastis.

Saya, Acong, Ibnu melepas jaketnya untuk di pakai Cindy yang tengah kedinginan. Untungnya ketika terjadi hujan digunung itu suhu sekitar malah menjadi lebih hangat.

Boneng dan Karman membantu Amel turun untuk menuntun dan menjaganya aman saat turun karena hujan jadi trek menjadi licin.

Agus menjaga dan mengawasi istrinya Rani ditengah hujan yang deras ini.

Diputuskan Nambah Satu Malam Lagi. Mengingat kondisi 3 cewek pada sakit dan cedera semua maka diputuskan untuk menambah satu malam lagi untuk menginap toh perbekalan masih ada karena kita sudah prepare  untuk jaga – jaga hal ini akan terjadi dan sangat disayangkan beneran terjadi.

Tidak seperti biasa teman – teman merasa kalau rombongan ini tidak kompak sejak summit dari bawah mungkin karena faktor X. Tim terpecah menjadi  3 kelompok dimana yang memiliki tenaga lebih besar berada di depan buru – buru ingin segera ke puncak dan membuat jarak antara ketiga tim sekitar 30 menit.

Tidak seharusnya terjadi tapi disini lah letak kelemahan tim kita dimana masih belum bisa mengendalikan ego masing – masing hingga akhirnya terbawa hingga ke tenda sempit para cowok. Capek, pegal, emosi, unek – unek yang ditahan dan sakit semua bercampur aduk hingga terjadi obrolan panas saling menyalahkan terjadi di dalam tenda.

30 menit berselang alhamdulillah semua kembali baik -baik saja karena kami sudah berteman cukup lama dan mengenal karakter masing -masing entah kenapa semua saling meminta maaf dan berpelukan, jujur di moment ini saya merasa terharu dan sempat ingin menitikan air mata tapi tertahan. Inilah pertemanan sejati Inilah kami yang sudah seperti saudara, terima kasih teman – temanku.

Pulang ke rumah masing masing. Setelah akhirnya turun dan sampai juga di Basecamp Palutungan kami membersihkan diri dulu sambil melihat – lihat souvenir yang bisa dibeli untuk dibawa pulang. Setelah semuanya selesai lalu kami menghampiri sebuah warung makan yang ditunjuk pengurus basecamp untuk melayani menu makan siang kami. Seperti tidak pernah melihat makanan enak kami pun masing – masing tambah 2 piring nasi dan lauk sampai bersih tak tersisa. Sudah rindu rumah kayaknya 🙂 yasudah sana pulang hehehe. Sekian

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *